Konsep Pernikahan Impian: " Romantis dan Personal"



Setiap calon pengantin selalu menginginkan yang terbaik untuk  resepsi sebuah pernikahannya.  Awal pernikahan yang ditandai dengan romantisme dan personal menjadi salah satu tema dari konsep pernikahan impian untuk tahun 2015.

TEMA:
Tema sudah dipersiapkan, "Romantis & Personal" tetapi  perlu dijabarkan dalam bentuk konsep yang lebih matang agar pesta atau resepsi ini menjadi momen yang paling indah bagi kedua pasangan yang akan melangsungkan pernikahanya.
pinterest com

UNDANGAN:
Dimulai dengan  siapa saja yang akan diundang.   Mengundang banyak orang memang sangat menyenangkan . Tetapi  untuk menciptakan persta atau resepsi yang sifatnya personal sebaiknya jumlah undangan dibatasi. Seringkali pengantin tidak mengenal siapa tamu yang datang, hanya bersalaman dan tanpa mengenal lebih dekat.  Kerabat inti, dan teman dekat  jadi pilihan yang penting. Tentukan jumlah, misalnya 100 orang.  Buatlah  daftar dari masing-masing kategori (kerabat atau teman).   Lalu, pemilihan kartu undangan yang sangat romantis dan personalisasi . Seribu satu macam pilihan sangat memusingkan. Namun, ada beberapa undangan yang cocok sekali dengan tema romantis dan personal.   Salah satunya adalah undangan seperti contoh berikut ini:

pinterest.com

TEMPAT RESEPSI:
Jika ingin sukses memilih tempat yang merefleksikan romantisme dan personal,  sebaiknya tempat terbuka seperti  pinggiran pantai sebuah hotel, atau pulau sungguh merupakan tempat yang tepat:

pinterst.com


PAKAIN PENGANTIN:
Busana pengantin pria maupun wanitanya perlu disesuaikan dengan nuansa tempat dan tradisi yang akan dilangsungkan.  Dibuat lebih sederhana tetapi tak meninggalkan romantisme yang sangat indah, apalagi jika diadakan pada saat menjelang sunset.

pinterest.com

DAFTAR TAMU
Momen yang sangat memorable ini perlu dirayakan bersama tamu undangan yang memberikan waktu , doa restu bagi calon pengantin. Oleh karena itu sangat penting apabila nama-nama tamu yang datang, bukan ditulis dalam sebuah buku yang lalu hilang dan tak disimpan dengan baik, tetapi dibuatlah sebuah potongan parsel yang tertera nama tamu yang hadiri, lalu dibuat sebuah lukisan. Lukisan itu jadi memory indah.

pinterest.com

DEKORASI:
Tema romantisme ini perlu dituangkan secara sederhana tapi tak menghilangkan romantisme dari sebuah tempat duduk pengantin .  Juga untuk para tamu-tamu pun dihias sesuai dengan kondisi sekeliling yaitu pemandangan indah menakjubkan dari pantai luas nan biru , dengan angin yang sepoi-sepoi basa.   Kursi pengantin sangat elegan dihias dengan pita warna yang lembut nan romantis.
pinteret.com


GIFT UNTUK TAMU:

Sebuah tanda syukur dari pengantin kepada tamu yang datang, akan lebih bermanfaat dan memorable, jika sebuah barang itu dapat langsung dipakai dan memberikan “personal touch”, inilah contohnya.

pinterest.com

ACARA SINGKAT, MEMORABLE:

Di tempat terbuka, luas, semilirnya angin terasa, tetapi kadang-kadang angin hampir tak terasa dan hanya terasa panasnya udara.   Oleh karena itu singkatnya acara mulai dari janji pengantin,  upacara resmi untuk tanda tangan, serta  komentar singkat apa yang  pengantin lelaki  terhadap pengantin perempuan dan sebaliknya, boleh dibuat informal dan sedikit lucu..





"Postingan Ini diikutsertakan pada Giveaway Konsep Pernikahan Impian"


Read More

MY PREGNANCY STORY : “NOT IDEAL AGE FOR PREGNANCY”

 Di usia menginjak 36 tahun, aku hamil, setahun setelah menikah. Banyak pertanyaan datang dari teman, saudara , apakah tepat jika aku hamil di umur atau usia yang penuh resiko besar. Aku tak dapat menjawabnya.  Setiap orang memiliki siklus  kehidupan yang berbeda. Mulai dari lahir, menikah dan meninggal dengan  cara dan waktu yang berbeda-beda.  Aku percaya semuanya diatur oleh Yang Mahakuasa. Kita sebagai ciptannya hanya berusaha dan percaya kepadaNya.

Jodohku baru datang pada usia 35 tahun. Setahun setelah menikah, aku dianugerahi kehamilan. Saat itu aku masih bekerja.  Berasal dari keluarga kecil dan keluarga suami di luar kota semua, aku tak banyak memiliki informasi.  Saat itu tak banyak informasi seperti saat ini, bagaimana cara merawat kehamilan dari media cetak maupun online. Cara yang sederhana yang dapat kulakukan adalah aku membeli sebanyak-banyaknya majalah,buku tentang kehamilan.  Makin banyak teori tentang kehamilan yang kubaca dan kuterapkan semaximal mungkin.

Awal mulanya sebelum kehamilan, aku harus melakukan  test  TORCH, mendeteksi antigen dan antibodi di tubuhku terhadap penyakit toksoplasma,ruberlla, cytomegalovirus,herpes simpleks tipe 1 dan tipe 2.  Apabila ditemukan virus dalam tubuh,  maka virus itu dapat dengan mudah menembus placenta dan menyebabkan kelainan pada janin .  Aku sangat khawatir karena meskipun aku tak suka memelihara binatang seperti kucing, burung, tetapi aku belum dapat memastikan apakah aku terinfeksi keempat penyakit itu sebelum aku melakukan  test TORCH.  Untunglah hasil test dinyatakan negatif.

Secara teoritis, aku mengerti bahwa  nutrisi yang harus dimakan selama kehamilan sangat penting bagi pertumbuhan janin.  Untuk nutrisi yang baik, makanan yang diasup harus bervariasi dan mengandung gizi bagi janin. Namun, sebagai seorang ibu bekerja, tak punya pembantu yang memasak untuk dibawa ke kantor. Keinginan untuk memasak sendiri hanya tinggal angan-angan karena setelah pulang kantor , di rumah telah cukup malam. Aku merasa capai untuk masak dua kali. Cukup untuk malam hari saja.  Dengan alasan yang praktis, aku akan cari  makanan bergizi di foodcourt.   Nyatanya, makanan di foodcourt tidak ada makanan bergizi dan bervariasi, hanya satu macam dan sayurnya sering sudah kering tak fresh lagi.  Beruntung jika aku pergi bersama dengan nasabah, aku memilih restoran dengan menu yang banyak mengandung ikan omega dan sayur fresh.

Hampir setiap bulan, aku harus kontrol  ke dokter genokolog.  Pada kehamilan ke empat, dokter dengan sangat berhati-hati menyatakan bahwa ada mioma uteri dalam kandunganku.  Aku segera bertanya:  “Apa  konsekuensi dari mioma untuk kehamilanku?” tanyaku.    Dokter menjelaskan dengan sangat rinci  beserta gambar-gambarnya.   Mioma itu akan membesar bersamaan dengan besarnya janin.  Jika letak mioma itu menyulitkan jalan lahirnya janin, maka terpaksa jalan satu-satunya adalah operasi.    Mendengar kata “operasi”, aku langsung lemas dan terdiam seribu basa.  Dalam  hati yang terdalam, aku masih menginginkan kelahiran secara normal biar pun sesulit apa pun.

Sejak saat itu, aku sering termenung dan agak “melo”.   Hal itu disadari oleh suami dan ibuku. Mereka sangat menghiburku dengan mengatakan bahwa tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, jika engkau minta kelahiran normal, pasti akan normal. Tetapi aku harus berdoa  memohon kepadaNya.

Tak ada jalan lain selain berdoa dan berserah.  Itulah yang kulakukan.  Selama bulan pertama hingga bulan ketujuh, tidak ada gangguan kehamilan yang membuatku terganggu. Namun, pada umur kehamilan memasuki ketujuh, aku  mendapatkan “morning sick”,  yang sangat mengganggu.  Aku selalu merasa tak enak badan, padahal aku harus bekerja dari pagi hingga sore.  Setiap kali makanan masuk, ingin ke luar lagi. Setiap sore,  badan sudah lemas, kupaksa makan sedikit, tetapi selalu ke luar lagi.  Akhirnya, aku tak tahan untuk tidak ke dokter. Dokter hanya memberikan vitamin-vitamin dan istirahat beberapa hari saja.

Menjelang umur kehamilan 8 bulan,  aku ikut senam hamil .  Dengan harapan yang membuncah aku dapat melahirkan dengan normal.  Walaupun aku sendiri tak yakin.
Hari Jumat jam 21.00 malam, ketika mulas sudah sering dirasakan, dan rasa takut ada sesuatu, aku langsung di bawa ke klinik bersalin.  Suster yang memeriksaku menyatakan bahwa itu baru pembukaan  4.   Harus menunggu sampai pembukaan 10 nanti dokter baru dipanggil. Padahal aku sudah merasakan kontraksi selama 10 menit dengan durasi 30 detik.  Semalam suntuk aku tak dapat tidur iap kali suster dipanggil, jawabannya adalah belum saatnya. 

Serasa pagi begitu lambat sekali, sayup-sayup aku mendengar suara suster menjawab telpon : “O, dokter sedang mengajar dulu, akan datang jam 11.00”.    Aku segera lemas bukan main, jadi masih menunggu 7 jam lagi.  Total  menunggu dan sakit itu sudah hampir 13 jam. Kondisi tubuhku sudah makin lemah dan lemas.  Ketika dokter datang pun, aku sudah dalam keadaan setengah tersadar.   Aku tak dapat menahan sakit yang luar biasa, ketika suara dokter terdengar :  “Ambilkan tang!” .   Begitu terdengar suara tangis bayi, mataku segera memandangnya dan airmata kebahagiaan itu mengalir.   “Bayi perempuan, ibu!” kata dokter dengan suara yang renyah.   Dia Normal dan cantik! Katanya menambahkan.

Hilanglah segala rasa sakit yang hebat digantikan dengan kebahagiaan dengan tangisan bayi mungil yang lahir ditarik sebuah  “tang” untuk dapat lahir ke luar.

Tulisan ini diikut-sertakan dalam Preganncy Story Writing Competition


Read More

ASYIKNYA BERKARYA DARI RUMAH

Aku bekerja sebagai pegawai  di Bank Swasta Asing selama 28 tahun.  Rasanya bekerja itu sangat menyenangkan karena selain dapat uang untuk keperluan pribadi, menambah penghasilan keluarga juga mendapat tambahan pengalaman baik itu dari pekerjaan sehari-hari atau melalui workshop/seminar/training. Aktualisasi pribadi sangat penting bagiku, uang yang berikutnya.    

Sebelum menikah bekerja di kantor memang tak ada masalah sama sekali karena sebagai lajang  dapat sepenuhnya bekerja tanpa terganggu oleh urusan keluarga karena keluargaku berada di luar kota.  Namun, setelah menikah bekerja di kantor harus berbagi waktu antar keluarga dan kantor. Setiap kali ada masalah dalam keluarga selalu ada perasaan dan pikiran yang terbawa waktu bekerja di kantor.  Tentunya hal itu akan mempengaruhi kinerja pekerjaanku di kantor.  Begitu manajemen menerapkan kebijakan untuk semua pegawai agar berprestasi .  Untuk berprestasi ada ukuran atau parameter yang ditentukan oleh perusahaan. Salah satunya adalah berhasil menyelesaikan proyek baru untuk inovasi atau terobosan dari pekerjaan yang tidak efisien menjadi lebih efisien.  Nach, inilah pekerjaan tantanganku, sekaligus membuatku gentar. Gentar karena teman-teman kerjaku banyak yang muda dan sangat dinamis dalam teknologi. Aku kalah bersaing dalam teknologi karena aku termasuk gaptek, dan aku harus mundur diri.

Ketika aku masuk "dunia tanpa kerja" karena harus pensiun muda, rasanya masa depanku sangat gelap dan sulit.   Terbiasa dengan pekerjaan yang sangat sibuk, dinamis hingga waktu habis sangat cepat, tiba-tiba jadi pengganguran yang tak punya pekerjaan.

Memang sebelum pensiun dini, aku bercita-cita untuk dapat membuka toko on-line . Semuanya sudah dipersiapkan dari mengambil barang dari supplier, membuat website pribadi yang masih sederhana, memasarkan dan mempromosikan.   Namun, usaha pertama ini tak berhasil alias kandas. Banyak kendala yang tak bisa kutangani, tak ada peminat atau pembeli sama sekali.

Dalam kondisi yang masih rapuh, aku bingung mencari jenis pekerjaan yang cocok dengan passionku.  Berbagai macam pekerjaan freelancer seperti  translator, pengajar,  hypnotherapist kulakoni.  Tetapi belum juga mendapatkan dan menemukan yang benar-benar sesuai dengan passion yang kuinginkan.

Akhirnya, aku mulai dapat titik terang, ada seminar tentang  “Creative Writing”.   Dari seminar ini,  aku makin memantapkan diri untuk jadi penulis.  Senangnya aku dapat menuliskan sesuai dengan jadwal yang sesuai dengan kegiatanku yang lainnya.   Bertemu dengan para blogger, memenangkan lomba-lomba dalam skala yang cukup besar dari perusahaan besar seperti Indosat, Ciputra Entrepreneur.  Ternyata,  bekerja dari rumah itu, menyenangkan, selain passion yang dapat dilakukan dengan waktu yang flexible, juga dapat  sesuai dengan menggunakan teknologi aku bisa bekerja sangat efektif.  Bekerja multi tasking, baik itu pekerjaan rumah tangga karena pembantu rumah tangga tak ada, tapi juga menghasilkan kepuasan adanya pekerjaan sesuai dengan passion.  

Untuk mengembangkan passion yang telah kudapatkan, aku juga ingin sekali belajar dan mendapatkan  buku ““Sukses Bekerja Dari Rumah”,yang  tentunya akan memberikan pencerahan dan trik yang lebih mendalam agar aku bisa lebih  sukses bekerja di rumah dan menghasilkan karya yang baik dan uang dari pekerjaanku. Buku itu tentunya akan bermanfaat bagiku karena aku ingin menambah wawasan dari berbagai aspek tentang bekerja dari rumah itu gimana sich strateginya membangun jejaring, marketing, manajemen waktu dan keuangan, keahlian apa yang perlu dibutuhkan untuk berbisnis, bagaimana memulainya.  Inilah kunci utamanya, dan pastinya dapat kutemukan di buku ini.


Semoga tulisanku ini juga bermanfaat bagi mereka yang ingin sukses berkarya dari rumah. Gali, temukan dan asah terus passion, berkarya dari rumah dan sukes berkerja dari rumah.
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Menulis “Asyiknya Bekerja dari Rumah”







Read More

MERTUA PEREMPUAN KEBANGGAAN MENANTU


Sebelum menikah, biasanya sebagai calon menantu perempuan, harus mengenal  lebih dekat dengan mertua perempuan.  Sayangnya,  mertua perempuanku  ini bukan ibu kandung dari calon suamiku.  Beliau istri kedua setelah ibu kandung calon suami meninggal.   Jadi sebenarnya, saya tak memiliki informasi banyak dari suami tentang mertua perempuan ini. Maklum, calon suami ngga mau memberikan informasi yang tak baik tentang ibu tirinya.  Yang sering saya dengar bahwa hal-hal yang kurang baik atau negatif tentang calon mertua perempuan saya.

Berkali-kali  saya coba mencari informasi dengan teman-teman lain tentang mertua perempuan.  Banyak yang mengatakan dan bersikap positif, bahwa mertuanya itu baik, mengganggap dirinya sebagai anak perempuannya sendiri.   Bahkan sahabat saya sendiri, pernah mengatakan bahwa mertua perempuannya jauh lebih baik dari ibunya sendiri. Bagaimana hal ini bisa terjadi?  Ternyata, pandangan teman karib saya yang mengatakan ibu mertua lebih baik dari ibunya itu karena parenting yang dilakukan ibu mertuanya kepada anak-anaknya sesuai atau cocok  dengan pola parenting yang dilakukannya.
  
Tetapi ada beberapa hal yang sering dengar juga dari mertua perempuan itu tak baik karena mereka tak cocok dalam berbagai hal .  Apalagi jika mereka harus hidup dalam satu rumah, tentunya  itu menimbulkan friksi yang lebih sering.  Rasa negatif yang sangat dirasakan oleh menantu perempuan karena  beberapa ibu mertua perempuan itu  belum siap kehilangan anak lelakinya. Dia merasakan ada orang yang merebut anak lelakinya. Akibatnya orang yang merebut anak lelakinya itu dianggap sebagai orang yang tidak baik. Sehingga relasi antar mertua perempuan dan menantu tak lagi baik.

Sebagai hal yang penting dalam konteks mertua perempuan, terutama dalam hari Kartini: 
Kita ini sama-sama perempuan, apalagi terikat dalam satu keluarga sebagai menantu dan mertua. Maka kita sebagai anak menantu perempuan tetap menghargai, menghormati  serta memberikan kebahagiaan.
Setiap kali kita teringat bahwa Kartini-kartini masa depan, melahirkan dan membesarkan anak, untuk menyongsong masa depan anak. Kita sebagai menantu tentu harus ingat dan sadar bahwa  ibu mertua perempuan itu adalah peletak dasar masa depan anaknya, yaitu suami kita.  Rasa hormat dan junjung tinggi segala usaha yang telah dilakukannya dalam membesarkan putra, termasuk suami kita, sungguh suatu hal yang penting.

Read More

MERTUA PEREMPUAN MASA KINI

Saat  berkenalan dengan calon suami, bayangan tentang calon mertua perempuan bagaikan suatu mimpi yang buruk.  Stigma negatif yang dibangun  dari sosok seorang mertua perempuan seringkali negatif sekali.   Inilah yang membuat rasa takut, was-was, khawatir berkenalan dengan calon mertua perempuan.

Namun, sosok mertua perempuan masa kini bukanlah seperti yang kita bayangkan seperti pada awal perjumpaan kita dengan mertua perempuan.   Ternyata  justru sosok mertua perempuan masa kini adalah bagian hidup kita yang akan memberikan inspiratif , teladan bahkan kebanggaan atas prestasinya membesarkan putra-putrinya yang  berhasil secara  karir tinggi, karakter kuat, iman yang teguh.

Saya sendiri sangat kagum dan angkat topi kepada mertua perempuan masa kini yang telah mengubah stigma saya menjadi positif.   Ini bukan cerita fiksi, tetapi cerita yang  benar-benar hidup.  

Saya bersahabat karib.  Sahabat saya bernama Karina. Kami bersahabat  sejak sekolah dari SD hingga SMA. Kami berteman, bersahabat, hidup  bertetangga .   Kami berdua  saling mengisi kekosongan. Saya seorang anak bungsu, karibku anak sulung.  Mempunyai kesamaan dalam nilai hidup yang dianut, menghargai kepada orangtua . Curhat kami dari kehilangan hobbi karena pekerjaan, hingga film dan seterusnya. Namun, ketika kami sudah dewasa,  menginjak ke dunia pernikahan.   Kami tak saling berjumpa.  Suatu kali kami sengaja  ketemuan karena merasa kangen sekali.

Pada pertemuan kali ini, kami bicara tak henti-hentinya dari soal kehidupan hingga  hal-hal A-Z.  Dari hal-hal yang remeh, sampai ke soal mertua.  Ketika menyinggung tentang mertua perempuan, mata teman saya langsung berbinar-binar.   Kamu tahu ngga, aku ini seperti ketemu seorang  sahabat baru  saat aku punya mertua perempuan.   “Loh gimana jadi sahabat baru?” tanyaku.    Mertuaku itu selalu  tampak tahu masalahku  jika ada pertengkaran antara aku dengan suamiku.   Dia tak pernah ikut campur sama sekali.  Dia bahkan sering memberikan wejangan bahwa hidup itu  kerikil tajam agar aku kuat.  Setiap kali aku bisa lewati kerikil itu artinya aku akan naik kelas.  Dia ngga pernah membela atau menyalahkan siapa pun ketika aku cerita tentang kejelekan suamiku.   Dia dengan bijak memberitahukan bahwa semua orang punya kelemahan. Tiap kelemahan itu perlu didukung oleh mereka yang kuat.  Wah, aku langsung menghargai pernyataannya.   Ini dia , mertua perempuan masa kini yang punya  wawasan luas dan enak diajak ngomong, diskusi”.

 Hubungan dan relasi sahabatku dengan mertuanya demikian dekatnya.  Bagaikan perangko dan lem.  Mereka selalu mengisi apa yang diperlukan, dan dibutuhkan.  Diberikan kehangatan tanpa meminta kembali.  Itulah relasi dekat dan hangat yang dialami oleh temanku dengan mertua perempuannya.

Teladan dari mertua perempuan sahabatku ini merupakan teladan Kartini. Dia tak pernah membedakan siapa menantunya, menghargai setiap perempuan yang ikut jadi bagian hidupnya.  Bahkan, dia memberikan dukungan atau support apabila diminta bantuan moril tanpa minta penghargaan.
Kartini masa kini hidup dengan wawasan yang luas dan tanpa perbedaan apa pun.

Read More

MERTUA PEREMPUAN YANG BERJIWA BESAR

Cerita klasik yang sering terdengar bahwa menantu perempuan tidak cocok dengan mertua perempuan.  Mengapa tidak cocok?  Kedua-duanya sama-sama perempuan yang seharusnya mengenal dan memahami soal perempuan.  Tapi justru tak cocok.  Heran ngga?

Bagaimana aku bisa mengenal seorang mertua perempuan yang berjiwa besar?
Bagiku, yang tak pernah memiliki seorang mertua perempuan karena beliau sudah meninggal, aku sangat kagum dengan temanku yang usianya lebih tua dari padaku.

Sebut saja namanya, Ibu  Rina.   Ibu Rina berusia 85 tahun.  Ketika menikah dia tak pernah berpikir  bahwa suaminya meninggal secara mendadak dalam usia yang masih muda, 41 tahun.  Saat suami meninggal, dunia bagaikan kelam baginya.  Dia tak pernah bekerja, selalu bergantung kepada suami baik  untuk finansial maupun urusan rumah tangga sekecil-kecilnya.   Goncang hati dan hidupnya.

 Namun, dia tak bisa lama bertopang tangan. Bangkit dari rasa sedih dan kelamnya hati, dia menopang kehidupan keluarga. Satu-satunya tulang punggung anak-anaknya yang berjumlah empat orang.  Singkat kata, dengan banting tulang, dan penuh dengan perjuangan, satu-persatu anaknya berhasil dalam sekolah, dan berhasil dalam jenjang kariernya.  Bahkan bukan hanya berhasil secara duniawi, tetapi secara rohani pun berhasil menanamkan nilai-nilai hidup yang sangat langka dalam zaman yang penuh  tantangan ini.

Lalu, saya selalu penasaran kepada Ibu Rina, bagaimana peran ibu sebagai mertua perempuan yang sangat dikagumi oleh menantu-menantunya .

Berikut adalah tips yang beliau berikan kepada saya:
  1. Anakmu adalah titipan Tuhan. Engkau hanya bertugas untuk membesarkan dan tidak bertugas untuk mempengaruhi, mengatur kehidupannya. Hanya arahkan dan berikan motivasi yang baik, sesuai nilai imanmu terus menerus tanpa pernah berhenti.
  2. Ketika anakmu menikah, dia adalah milik orang lain, bukan milikmu lagi.  Jangan pernah menyesal atau mengingkari dirimu bahwa anakmu memiliki keluarga baru  dan membentuk keluarga baru untuk kebahagiaannya. 
  3. Kebahagiaan sebagai orangtua dan mertua, ketika engkau melihat adanya kebahagiaan yang tercipta dari keluarga anak-anakmu.  Sebagai orangtua dan mertua, kebahagiaan anak adalah satu-satunya kebahagiaan orangtua.
  4. Jalin dan bangun relasi dengan menantu  sebagai anak bukan sebagai menantu.  Jika engkau anggap menantu anak, artinya tidak ada perbedaan paradigma bahwa dia bukan anakmu. Jadikan menantu sebagai merasakan kebaikanmu, dia juga akan membangun relasi yang baik denganmu.
  5. Hiduplah mandiri tanpa harus selalu tergantung kepada  menantu dan anak.   Kehidupan keluarga baru memiliki kesibukan yang tak mungkin melayani kebutuhan kita. Kita harus punya  komunitas dimana kita bisa mencurahkan kesibukan sendiri.
  6. Bersikaplah tidak mencampuri urusan rumah tangga anak dan menantu. nilai baru yang mereka ciptakan bukan seperti yang kita anut . Walaupun kita sebagai orangtua pernah menanamkan, tapi sekarang mereka adalah manusia baru yang punya pengalaman dan nilai yang  mereka ingin jalankan sendiri.
Semua tip di atas, adalah sebuah wejangan dari seorang ibu dan mertua perempuan yang berjiwa besar.  Pengalaman baru yang saya rasakan bahwa seorang mertua perempuan yang lahir pada zaman Kartini memiliki pemahaman dan paradigma luas tentang keluarga , anak serta menantunya.  Mampu menjadikan dirinya sebagai orang yang dihargai, dihormati karena pemahaman dan nilai-nilanya yang selalu ditanamkan itu bukan hanya teori tetapi dijalankan dalam kehidupannya.

Kartini masa lalu, ada dalam jiwa dan perbuataan tante Rina.  Semoga cita-cita Kartini yang hidup dalam jiwa Ibu Rina ada di dalam semua perempuan Indonesia yang sebentar lagi akan menjadi mertua perempuan yang berjiwa besar.


Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Hari Kartini:

Read More

Bahagia melawan Egosentris dan kekhawatiran:

Kehadiran seorang anak yang didambakan di usia yang cukup kritis  merupakan karunia Tuhan.  Karunia yang sesungguhnya di luar dugaan melihat resiko besar kehamilan dan usia pada saat hamil.

Kehadiran Seorang putri  tunggal , menjadi  sesuatu yang  berharga .   Kami sangat mencintainya.  Namun, kami juga sadar bahwa kebahagiaan itu harus disertai tanggung jawab besar untuk mendidiknya di tengah keterbatasan umur dan finansial kami.


Selesai menamatkan Sekolah Menengah Atas, kami terus berusaha untuk  memberikan yang terbaik untuk anak satu-satunya.  Sesuai dengan passion yang sudah lama dikemukakan,  Dina (bukan nama sebenarnya), ingin sekolah di sebuah perguruan tinggi di luar negeri.  Mengapa pilihan ke luar negeri?  Berdiskusi panjang lebar dengannya, keuntungan dan keburukan serta kekhawatiran saya sebagai seorang ibu jika ia tetap memilih belajar di luar negeri.


Berbagai macam pertimbangan setiap aspek dalam pilihan perguruan tinggi . Akhirnya,  keputusan pun harus diambil.  Meskipun  resiko sudah dipikirkan dan dipertimbangkan. Persiapan yang matang baik itu secara mental, phisik maupun dokumentasi dalam rangka keberangkatannya.

Sebagai seorang ibu , ada pergumulan dan perjuangan batin melepaskan seorang anak perempuan yang dulunya selalu berada dekat di sisinya. Tapi harus berangkat ke luar dari sangkar aman di rumah, dalam genggaman seorang ibu dan ayahnya.


Dari hati yang terdalam,  sangat  berat ntuk melepaskan kepergian anak. Berbagai kekhawatiran, bagaimana anak dapat menghadapi tantangan jika dia sendirian.  Tidak ada seorang pun yang mendampinginya atau memberikan bantuan dalam waktu yang singkat.


Namun, dengan kekuataan untuk menatap masa depan anak, saya mengganggap kekhawatiran saya kadang berlebihan, bahkan ego manusiawi saya muncul.   Menatap masa depan anak, harus memandirikan dirinya untuk menghadapi tantangan hidup yang semakin besar.   Dunia luar , cakrawala luas perlu dijangkaunya.

Tetapi  keberanian saya untuk tak mengikuti ego bukan sesuatu yang mudah. Kekhawatiran .  Sebagai seorang ibu seorang anak tunggal terus membayangi . Akhirnya, saya membuat keputusan  dan tekad yang bulat bahwa  tantangan harus dihadapi anak demi kemandiriannya.  Masa depan dan tantangan ada di tangan anak bukan di tangan saya sebagai ibu.

Akhirnya,  saya benar-benar merasa menaklukan diri saya demi kepentingan dan masa depan anak dengan melepaskan dirinya untuk berangkat belajar ke perguruan tinggi di Melbourne.


Awal dari kepergiannya, saya merasakan rasa kehilangan, kesedihan yang timbul tiba-tiba.  Menampik perasaan itu perlu belajar kekuataan pikiran yang matang, jernih.

Ternyata, seorang teman baik saya yang juga memiliki seorang putri dan dua orang putra, datang kepada saya.   Dia mengatakan kepada saya :  “Saya kagum akan keberanianmu melepaskan seorang putri tunggal untuk belajar di luar negeri yang cukup jauh.  Hal ini menginspirasi saya untuk ikut memberanikan diri  melepaskan anak perempuan saya yang tadinya tinggal di rumah saya, sekarang tinggal di kos”.


Di balik keberanian saya itu ternyata menjadi inspirasi bagi seorang teman yang kebetulan latar belakang sama, punya seorang putri.  Inilah kekuatan bagi saya bahwa keputusan saya bukan hanya karena keegosentrisan seorang ibu tetapi demi masa depan seorang anak..




Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba: 
 Words:  460



Read More
Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...