TAKE ME BACK INTO YOUR ARMS

Take me back into the amrs
I love
Need me like you did
Before touch me
Once again   
Remember where there was no one that I believe


Nada dan alunan suara penyanyi  Celine Delon dari DVD itu menimbulkan rasa rindu yang sangat.  Tiga puluh Delapan Tahun yang lalu  di Semarang,  seorang teman,telah membuat detak jantungku sangat berdegup dan  mata, jantung,  hatiku  tak pernah lepas dari kerinduanku untuk selalu bertemu.

Namun,  keindahan dan kerinduan itu hanyalah tinggal bayang-bayang saja.   Kepercayaan kepada teman priaku harus kandas.  Kegagahan, kesopanan, kekaguman itu sirna .   Hampir tak dipercayainya  apa yang dilihatnya.  Janji untuk setiap kali pulang bila liburan kuliah pulang, serta surat-surat (kala itu belum ada internet maupun hp), ternyata hanya seindah janji saja. Keindahan cinta yang sangat menyakitkan,  menjeratkan hatiku.
               
Begitu singkat perjumpaan itu.   Kandas ditengah jalan, hanya sebuah surat cinta yang terus kupeluk.   Sebuah perjalanan hidup yang membuatnya bersinar.  Hidupku  yang begitu sangat bersemangat karena cinta pertama, sirna.   Hanya tinggal sebuah surat cinta yang tak pernah hilang dari hidupnya.

Kemarin tinggal kenangan sekarang adalah kenyataan.  Itulah yang kuhadapi.  Tak perlu mengharapkan kembalinya seorang karena dia sudah menjadi milik orang lain.  Kebahagiaan sejenak telah terenggut.  Semangat hidupku bangkit karena ibuku yang mendorong untuk hidup tanpa cinta pertama. Carilah cinta sejati dan temukan kebahagiaan hidup.

Move on, bangkit untuk sesuatu yang lebih berharga daripada cinta pertama.

Tulisan ini diikut-sertakan dalam “"My First Love Giveaway" Aprint Story”

Read More

RASAKAN SUKA DAN DUKA IKUT BERGABUNG DENGAN KEB




Tak ada sesuatu yang tak kebetulan di dunia ini. Semuanya memang “diatur” oleh   Allah.  Percaya tau tidak. Aku memang mengakuinya bahwa hidup ini tak pernah kebetulan.
Saat aku sedang galau dalam masa transisi setelah pensiun. Aku mencoba berbagai macam kegiatan seperti  bisnis on-line kecil-kecilan,  ingin jadi instruktur untuk pelatihan senam, ikut kegiatan sosial di berbagai  tempat.

Namun, dari sekian kegiatan itu yang dicoba itu, tak ada hasil maximal yang dicapai. Semuanya berakhir dengan berhenti ditengah jalan.
Lalu, suatu hari perkenalan dengan Mbak Mira Julia terjadi karena aku ingin membuat design blog yang cantik.  Ketika belajar di tempat Mbak Mira Julia, aku diperkenalkan bahwa sebagai penulis sebaiknya ikut bergabung dengan komunitas KEB (Keluarga Emak Blogger).

Berangan-angan besar agar aku dapat ilmu banyak dari komunitas ini ketika aku mendaftar jadi anggotanya.  Ngga apa2 dong?  Ternyata aku melihat perkembangan KEB luar biasa. Banyak jumlah anggotanya. Tetapi aku belum jelas kualitas dan pertumbuhan anggota-anggotanya.

Pengalaman awal adalah mendapatkan banyak teman via on-line.  Teman yang punya kesamaan hobby dan passion.  Tukar-menukar pengalaman dan tulisan , blog walking, dan chat, sering terjadi. Aku lebih banyak mengamati  tulisan-tulisan teman-temanku itu.  Inspirasiku dan motivasiku terbangun saat melihat banyak penulis berkualitas lahir di KEB.

Berbagai ilmu dengan Mbak Rina Susanti dan Arin, bahkan sampai diajak untuk ikut cooking Modena Class.  Perlu dicatat bahwa acara ini tidak ada kaitannya dengan KEB. Tetapi dengan berkenalan dengan emak-emak di KEB, aku mendapatkan pengalaman baru dan wawasan yang lebih luas, bersilaturahmi dengan sesama blogger.
Dokumen Pribadi


Dokumen Pribad
  
Hanya sayangnya, aku sering tidak dapat ikut kegiatan offline karena waktu dan penyakit yang kuderita tidak dapat pergi terlalu jauh.  Hal ini membuat pengamatanku itu sering luput karena acara-acara yang diadakan oleh KEB itu tak sepenuhnya  dapat diakses dalam FB ku.  Aku sering ketinggalan seperti acara Srikandi KEB.  Tidak tahu awal mula ada acara ini, tiba-tiba melihat  pemenangnya.  Proses awal hingga akhir pun aku tak mengetahuinya.  Apakah acara ini memang hanya diperuntukkan bagi mereka yang sudah kaliber dan pengalaman jadi penulis?  Aku sendiri belum paham. Barangkali ada yang membantunya.

Tiap-tiap penulis punya bidang keahliannya masing-masing, ada yang ahli dalam bidang memasak, travelling, review dan tehnik blog.  Seandainya mereka berbagi sesuai dengan keahliannya dan dibuatkan program dalam KEB, alangkah menyenangkan sekali.

Boleh sedikit feedback yang terakhir untuk KEB yang berulang tahun ke-3, tentunya tak ada Gading yang tak retak, dengan segala hormat, apakah ada etika kepada para penulis di KEB, untuk selalu menjunjung tinggi kebenaran apa yang ditulisnya dan dipublikasikan di KEB dan konten dari tulisan sebaiknya bukan sebagai   corong sponsor tapi memang bermotivasi untuk membagikan ilmu kepada anggotanya.

Terakhir kali, last but not least,  semoga dalam ulang tahun yang ke-3, KEB, menjadi suatu organisasi penulis perempuan/emak-emak  yang selalu menatap ke depan untuk maju, mengutamakan kepentingan bersama, saling mendukung dan mengevaluasi capaiannya.


Read More

KADO YANG TERINDAH TAK TERLUPAKAN DALAM HIDUPKU

Tiap awal tahun tentunya aku punya resolusi agar memacu hidup ini lebih maju dan menapak dengan harapan dari target yang telah dibuat.   Tahun 2014, aku membuat resolusi  yang tak muluk. Kelihatannya sederhana sekali tapi buat diriku itu suatu tantangan yang tak mudah dicapai jika aku tak punya motivasi kuat dan disiplin dalam menjalankan resolusiku.

Menulis tiap hari sedikitnya dua artikel di blog dan menulis sedikitnya satu artikel untuk dikirim ke media dan terakhir membuat satu e-book. Tujuan utamanya adalah aku harus menjadi penulis yang produktif.
Bukan main itu suatu perjuangan bagiku.  Bagimana tidak. Tiap hari memang tugas rutin kukerjakan, senam, memasak, mengurus rumah dibantu oleh pembantu yang hanya datang untuk  2 jam.  Selesai itu, sebenarnya banyak waktu yang dapat dialokasikan untuk menulis.

Tetapi bukanlah mudah memotivasi diri, kadang-kadang, niat untuk menulis itu menghambat diriku karena ada teman yang ajak untuk menonton, menengok yang sakit atau bahkan ada acara arisan yang  menurutku buang waktu karena tak ada manfaatnya.

Begitu melihat  pada time planner, aku tercenung dan kaget, wah sudah habis waktu yang disediakan untuk menulis ternyata sia-sia saja terlewati.  Aku terpaksa  membuat kembali planner yang diperbaiki.
Target itu  berhasil.  Aku dapat menulis dua artikel dalam blogku setiap hari.  Juga ikut berpartisipasi dalam kompetisi lomba.  Tujuan ikut lomba tentunya aku ingin mengaktualisasikan diriku sebagai penulis memang punya kompetensi untuk menulis.   Disamping itu tentu aku juga mengharapkan adanya hadiah yang lumayan untuk  usahaku yang sangat keras itu.

Namun, ternyata  seproduktif apa pun hasilnya masih nihil.  Jika kulihat kembali file dari tulisanku sebulan aku bisa menulis 30 tulisan. Tak satu pun yang menghasilkan apa-apa.   Apakah ini perjuangan yang sia-sia saja?  TIps dan jurus bagaimana tulisan dapat tembus di media atau menang lomba kupelajari. Namun, sampai saat ini tak ada yang menang atau tembus.  Ada apa yang salah dengan resolusiku.

Ditengah keputus-asaan itu aku iseng mengirimkan sebuah artikel berjudul “Hamil Di Usia Tak Ideal” dalam Lomba yang diadakan oleh Fotile Indonesia. Setelah itu aku tak banyak berharap tentang hasil dari tulisanku. Aku tetap menulis terus.

Suatu hari di facebook, aku mendapat kabar dari panitia tentang pengumuman pemenang, aku pun tak berminat untuk melihat.  Maklum sudah sering kalah dan tidak masuk dalam nominasi jadi aku tak berharap banyak.  Tetapi ternyata ada surel yang masuk .   “Anda menjadi pemenang Juara ke III dari Lomba Fotile”.
Wow, luar biasa gembiranya.  Ternyata ada juga tulisanku yang dapat tembus ke panitia lomba.

Tunggu punya  tunggu, ternyata hadiah yang dijanjikan oleh panitia itu tak kunjung datang juga. Hampir 2 bulan, aku menunggu kapan hadiah itu datang.

Suatu hari , ketika aku sedang menulis, ada suara dari luar yang berteriak:  “Paket!”.   Kutanya kepada petugasnya:  “Untuk siapa pak?”     Petugas pengiriman paket itu bengong.   Dia jawab: “Untuk Ibu Ina!”.    “O, saya sendiri. Loh ini khan hampir hari Libur Natal, kok masih ada pengiriman”, kataku.   “Ibu, JNE Yes, tak mengenal  libur khan janjinya sudah satu hari, kecuali hari Minggu”, katanya.
Dokumen Pribadi

Ketika membuka bungkusan hadiah itu. Rasanya kebahagiaan yang besar menghinggapiku.  Usahaku yang kesekian ratus kalinya, dinyatakan berhasil.  Kuingat  “Success is the ability to go from one failure to another with no loss of enthusiasm (Churcill)”.  Terima kasih atas kado yang terindah yang tak pernah kulupakan yang mengangkat semangatku untuk terus dan tetap bekerja, berkarya dan berhati  teguh.

Tulisan ini diikut-sertakan dalam Lomba Blog : GIVEAWAY  "KADO TERINDAH"
Read More

KADO NATAL YANG MENYENANGKAN

Setiap bulan Desember tiba, saatnya memikirkan kado-kado yang perlu dikirimkan untuk keponakan-keponakan baik yang di Jakarta,Bekasi maupun yang di luar kota.

Rasanya ngga afdol jika acara tukar-menukar kado atau istilah kerennya disebut Cross Cadeu ini dilupakan atau dilewati.  Tradisinya yang tua memberikan kepada anak-anak, keponakan-keponakan. Buat yang dewasa/tua, diadakan cross cadeu.  Buat yang anak-anak di bawah usia 10 tahun, biasanya kita sebuat hadiah Sinterklas.

Serunya adalah memikirkan ide tentang apa yang pas buat masing-masing keponakan.  Membayangkan si Brian, anak yang senang main game, ngendon di rumah , banyak baca.   Nach kira-kira kado apa yang tepat buat Brian yang memang orangnya pendiam, senang serba futuristik. Duh kalo beli yang bertechnology tinggi, repot, biaya budgetnya ngga sampai.  Sederhana aja dech, pokoknya dia ngga akan ngomel jika dia terima hadiah itu. Dibelikanlah buku cerita berjudul “High School Muscal 2”.
Hadiah bagi Brian:  dokumen pribadi

Nach, keponakan satu lagi yang kebetulan di luar kota,  si Dita.   Anak ini baru berusia 3 tahun.  Celotehnya banyak sekali, serba ingin tahu.  Jika ditanya apa cita-citanya apabila nanti sudah besar.  Jawabannya mengagetkan sekali buat tante yang tak membayangkan, “Jadi  pelukis”.    Wow, kok jauh banget dengan penampilannya yang selama ini saya lihat. Kupikir dia suka jadi “peragawati”, melihat dia suka difoto dan lenggak-lenggoknya sungguh sangat luwes sekali, tanpa arahan dari siapa pun.

Terpaksa untuk si Dita, saya sebagai tantenya, harus berpikir keras, kado apa yang tepat untuk dirinya yang pengin jadi pelukis.   Sempat bertanya dan sedikit interogasi dengan mamahnya.   “Apakah Dita udah punya alat-alat gambar?”.   “Belumlah!”, kata mamahnya.
Lanjutan interogasi adalah,  “Pensil warna atau spidol yang sering dia pakai buat gambar?”. Terpaksa ibunya ikut melihat dan mengamati apa yang dia pakai untuk coret mencoret gambar di rumahnya.   “O, katanya dia itu senang gambar dengan krayon!”

Sambil hunting di toko buku, untuk mendapatkan krayon yang lumayan lengkap.  Ternyata sekarang ini banyak sekali pilihan dari yang berisi 12 , 36 maupun 72. Ada yang import, lokal . Semuanya tinggal pilihan kita sesuai dengan kantong atau budget.  Milih sih gampang, tapi mesti inget, dech nih anak benar senang dan kepakai ngga krayon yang memang bagus dan lengkap.
Hadiah buat Dita: Dokumen Pribadi

Setelah dapat dua hadiah untuk dua keponakan.  Aku bungkus keduanya.   Rasanya plong dach tugas untuk kado natal buat keponakan itu. Tapi kepikir lagi bagaimana cara pengiriman kado natal  untuk si Dita.  Untuk Brian, ngga ada masalah karena nanti ada acara keluarga bersama dengan ibu dan anaknya di malam natal.  Tapi  buat Dita, aku bingung, gimana nich.  Ups, kenapa bingung.. pengiriman JNE  Yes (Yakin Esok Sampai) langganan di dekat rumah sudah ada. 

Kring...kring telpon HP ku berdering. Di layar ngga tercetak nama yang kukenal. Hampir dua menit aku ragu-ragu. Perlu dijawab ngga yach. Kudiamkan sebentar. Lalu kujawab. Terdengar suara anak perempuan yang sangat merdu dan ceria.  “Tante Ina, Dita sudah terima kado Natalnya, terima kasih banyak”. 
Luapan kegembiran dan keceriaan itu nampak dari nada suaranya.  “Loh, emang sudah sampai kadonya? “ tanyaku.   “Iya, dong, itu hadiah bukan dari sinterklas, aku tahu itu dari tante!” katanya.   “He..he...iya yang kasih tante, tapi yang kirim itu JNE, jadi selain ngomong terima kasih kepada tante, juga terima kasih yach sama JNE!”.  

Kado kiriman itu memang tepat waktu dan tepat sasaran, jadilah kado yang menyenangkan dan membahagiakan penerimanya.  Berbagi untuk kado di hari Natal adalah kebahagiaan bagi penerimanya, dan rasa syukur atas kado itu dapat digunakan atau dimanfaatkan sesuai dengan keinginan keponakan.  Last but not least, Ucapan terima kasih buat JNE yang telah mengirimkan kado buat Dita dengan tepat waktu. Tidak mengecewakan...dech.  JNE jadi kebahagiaan Dita.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog : "Kado Terindah"



Kado Terindah Untuk Samwan Spesyel
Read More

“KOMPUTER ,KADO YANG KUIMPIKAN”

DokumenPribadi
Dengan sedikit galau, aku memandang  kepada laptopku yang besar, agak sedikit lemot,jauh dari  dari kecanggihan dari  “Toshiba” model mutakhir. Sejarah bagaimana aku memiliki “Toshiba”Satellite A100  ini.   Saat pensiun tiba, aku belum menyiapkan diri untuk memiliki sebuah laptop.  Lupa bahwa komputer kantor tidak bisa dibawa pulang ke rumah.  Hanya sebuah laptop mini yang kumiliki, yaitu Sony Vaio VGN =_15G ini pun telah diberikan kepada anak yang saat itu duduk di SMA. Banyak tugas SMA yang harus dilakukan bersama dengan teman-temannya. Agar tugas itu dapat diselesaikan, maka laptop mini itu pun diserahkan kepada anak .

Nach, tinggal ada dua laptop di rumah yang memang dipakai untuk bekerja oleh suami.  Pilihan suami tentunya laptop yang lebih canggih, mutakhir, spesifikasinya yang paling tidak cukup mendukung untuk pekerjaannya.  Diambillah oleh suami laptop VAIO VGC-LN 15G, sisanya Toshiba Satellite A100.
Akhirnya,  Toshiba Satellite A100 itu berpindah tangan pemiliknya dari suami menjadi milikku. Senang  dan bahagia saat aku mendapatkan komputer Toshiba Satellite A100  karena aku dapat menggunakannya untuk akses media sosial, berinteraksi, bekerja sebagai penulis blog.

Hampir empat tahun aku menggunakan komputer ini.  Teknologi komputer terus berkembang dari hari ke hari.  Aku sering melamun dan mengimpikan seandainya, aku dapat mendapat kado entah itu dari siapa pun, komputer laptop yang lebih canggih dari apa yang kumiliki, alangkah bahagianya.


Sadar bahwa kado itu tak mungkin diberikan, tapi ”who knows that oneday I get my dream comes true”, entah itu melalui hadiah lomba atau entah itu dari siapa yang memang berkenan memberikannya atau kado karena dapat rejeki.

Begitu besar keinginan untuk kado sebuah komputer yang lebih canggih itu sangat kuat, aku sering berselancar di beberapa web elektronik, penjual komputer.  Kupandangi , kulihat spesifikasinya, kutanya kepada suami apakah ini lebih canggih dari komputer lamaku?   “Ya”, jawabannya. Lalu kutelusuri bagaimana pengiriman dari komputer itu.  O, mudah kok, mereka bisa mengirimnya dengan JNE, jika setelah membeli komputer baru, kita perlu install semua applikasi dalam komputer .

Sayang, kado utama , Apple Mcbook Pro itu  ternyata justru harus diberikan suami kepada anak yang harus melanjutkan studinya. Dan aku, tentunya harus bersabar untuk menantikan kado  yang kumau dan kuinginkan.  Keinginan tak selalu harus dipenuhi, kebutuhan yang menjadi prioritas yang diutamakan.

Tulisan ini diiku-sertakan dalam Giveaway "Kado Yang Aku Mau"


Read More

MOTHER’S DAY: “CNN'S HERO, ROBIN LIM, PENYELAMAT KELAHIRAN BAYI DAN IBU”



Angkat tangan yang setinggi-tingginya dan tepukan yang meriah bagi Bidan Robin Lim, nominee dari CNN Heroes of the Year 2011.   Akhirnya Robin Lim dipastikan  sebagai "One of The Ten of CNN's Hero in 2011.

Siapa yang tak mengenal Robin Lim?  Perempuan berkelahiran Amerika tinggal lama di Pilipina . Perempuan sederhana tetapi memiliki misi, dedikasi dalam membantu kelahiran bayi bagi komunitas kalangan bawah di Bali.  Kehilangan bayinya, kehilangan adiknya dalam melahirkan, kehilangan sahabatnya dalam melahirkan, membuat Robin Lim bertekad untuk membantu perempuan-perempuan untuk bisa survive dalam melahirkan bayinya dengan selamat dan sehat.

Semangat itulah yang membawa Robin Lim dari Hawai , menuju Bali. Penjualan rumah di Hawai, menginjak Bali dengan sebuah misi yang besar, membantu para ibu-ibu yang akan melahirkan untuk hidup sehat dan melahirkan anak dengan selamat.  Yayasan yang dibentuk bernama “Yayasan Bumi Sehat”.  

Bukan hanya Bali saja, tetapi Aceh juga menjadi  tempat bantuan yang sangat dibutuhkan pada saat tsunami.   Dengan kondisi yang sangat terbatas, tidak ada peralatan yang canggih maupun higenis, dia memberanikan dirinya untuk memberikan perawatan kepada ibu dan anak yang dilahirkan .  Peralatan yang tak terbatas tak menyurutkan langkahnya untuk membakar tali pusat bayi . Langkah ini sesuai dengan pengetahuan yang dia dapatkan dalam ilmu kebidanan.

Baginya bayi adalah seorang mahluk yang pantas memiliki hak sejak dia lahir.  Dia sangat concern dengan adanya praktek “adopsi bayi” bagi orangtua yang tak mampu ketika melahirkan harus membayar biaya melahirkan dan biaya bayi itu di masa depan.    Lalu, dia memberikan jalan ke luar, dengan menawarkan perawatan kehamilan gratis dan layanan persalinan .  

Sadar bahwa keluarga di Indonesia dengan rata-rata income sebesar USD 8 per hari , biaya persalinan normal sebesar $150 dan caesar sebesar $1,500, tak memungkinkan mereka untuk memilih melahirkan di rumah sakit. Pilihan mereka adalah  dengan cara yang tradisional dan tidak menjamin keselamatan ibu dan bayinya. Resiko besar menghadang mereka.

Misi  Robin atas keselamatan bayi dan ibunya menjadi tumpuan dan perbaikan dari kematian bayi dan anak di Indonesia. 

"Hero" yang tak pernah kenal lelah dalam membantu keselamatan bayi dan ibu ini akan terus berjuang sampai kapan pun.

Dalam rangka hari Ibu, hanya sebuah harapan dan doa yang dapat kulyangkan: “Selamat Berjuang dan Selamat Melanjutkan Misi Muliamu , Robin”.


Read More

2014 Blogger Self Reflection: "MENYALAKAN LILIN KECIL DARI DALAM DIRI SENDIRI"

Perjalananan jadi mom blogger bermula dari suatu keinginan untuk menumpahkan isi hati karena mengisi waktu luang pada waktu pensiun.   Isi dan  format pun tak begitu jelas.  Isinya masih sangat sederhana seputar pribadi dan tips-tips pengalaman pribadi. Jika ditengok design blog awal saya pun pasti saya geli sendiri karena kesan asal jadi . Mengambil design asli dari blogger.  Ngga keren sama sekali.  Saya berpikir yang penting isinya. 

Sedikit demi sedikit belajar penulisan blogger  dari pelatihan, seminar tentang penulisan yang diadakan oleh Kompas.  “A Creative Writing Master Class with Maggie Tiojakin”,    Bertemu dalam dunia maya dengan ibu-ibu penulis membuat penulisanku sedikit berubah.   Semula orientasinya diri sendiri, dan tips dari pengalaman hidup menjadi sebuah opini, sosialisasi, bahkan memberanikan  ikut dalam ajang lomba.

Sadar bahwa blog pribadi juga jendela atau cakrawala dari pembuatnya, maka saya belajar bagaimana membuat blog saya lebih menarik dan cantik  Bagi seorang mom blogger yang gaptek, Workshop Desain Blog Jelita Merona jadi pilihan saya untuk belajar.  Secantik Blog Jelita Merona, belajar dari template sampai detailnya.  Merasa pusing ketika belajar coding, tapi semangat untuk punya blog cantik memaksa saya belajar setengah mati.  Hasilnya adalah beberapa blog yang cukup menarik buat saya dibandingkan blog aslinya:
 Parenting: http://childparenting2.blogspot.com/
Writing Competition:  http://writingblogcompetition.blogspot.com/
Creative Writing:  http://penulisankeren.blogspot.com/
Journey of Inspiration: http://catatanperjalanandanautoba.blogspot.com/


Memberanikan ikut ajang lomba , mempunyai tujuan selain untuk menang juga untuk aktualisasi pribadi sebagai penulis.  Ternyata tak mudah untuk menjadi pemenang. Segudang jalan terjal yang harus dilalui.  Selama tahun 2014, hampir 70 tulisan telah dikirimkan, tetapi hanya dua kali pemenang yaitu “Suarakan Hak-hak Perempuan” oleh Lingkar Puisi dan Prosa Lembaga Bhinneka  -  8 Desember 2012- 8 Januari 2013   -    Juara  III (Esai); “Bagaimana Menghadapi Persaingan Sebagai Seorang Entrepreneur” oleh Lomba Blog Ciputra Entrepreneurship,  "Hamil di Usia Tak Ideal" oleh Fotile Indonesia - Oktober 2014 - Juara III.

Berkali-kali mencoba menulis di blog untuk ikut sosialisasi seperti TBC, Kanker anak, Kanker Serviks.   Ketertarikan dunia kesehatan bagi saya menjadi menantang.  Terpaksa belajar cari literatur, membaca dokumen, belajar menggali dan mengenal penyakit lebih dekat supaya bukan diri sendiri yang mengetahuinya, tetapi masyarakat juga mengenalnya.

Sekarang keikut-sertaan ajang lomba bukan untuk mendapatkan predikat  “Jadi Pemenang”, tetapi lebih karena saya ingin berpartisipasi aktif dan berperan membantu dalam bidang kesehatan, sosial . 
Komunitas Blogger yang saya ikuti juga menantang seperti Kompasianer.  Jika ingat siapa saja pengikut atau penulis dalam Kompasianer, hati saya sudah ciut sekali.  Penulis dan blogger ternama terus berjuang menembus, apa artinya saya.  Tidak satu semangat dari lilin kecil agar terus bersinar walaupun tanpa kemenangan.  Akhirnya, saya berjalan menembus akhir tahun 2014 dengan lilin kecil yang tak pernah pudar.

“Postingan ini diikut sertakan dalam Lomba tengok-tengok blog sendiri berhadiah, yang diselenggarakan oleh blog The Ordinary Trainer”

Read More

JALAN TERJAL UNTUK JADI PENULIS BUKU


www.iracentil.blogspot.com
Ketika saya baru saja menginjak dunia tulis menulis serasa  dunia ini  penuh dengan pertanyaan. Dari mana dan bagaimana caranya menjadi penulis yang berkualitas?   Tidak ada panduan atau pedoman baku untuk melangkah jadi penulis yang baik kualitasnya.

Dengan kaki yang terseok-seok, aku melangkah dunia penulisan menurut apa yang kuketahui saja.  Pertama tentunya membaca beberapa buku, “Bagaimana Jadi Penulis yang baik”.

Langkah awal itu tak membuat jalan mulus untuk jadi penulis.  Teoritis sudah ada di kepala. Namun, tak juga dapat menulis dengan apa yang ada di kepala.  Berkali-kali membaca teori, aku makin bingung.   Awal kesalahan untuk dapat langsung  menulis dengan baik itu menjadi kesalahanku. Konsep di kepala agar tulisan baik harus sesuai dengan kebutuhan pembaca.   Menulis buka suatu hal yang mudah bagi saya.  Pada saat di Sekolah Dasar, saya tak menyukai pelajaran mengarang.  Hal ini mengakibatkan saya mendapat kesulitan pada saat saya SMP, SMA dan terakhir ketika di perguruan tinggi ketika membuat skripsi.  Penulisan saya hanya fokus  kepada apa yang saya lihat dan apa yang saya alami dan referensi yang ada kaitannya.  Sayang, keterbatasan untuk gaya tulisan saya yang kaku membuat tulisan itu sangat membosankan dan bahkan tidak enak dibaca.   Berkali-kali saya harus mengedit, mengulang dan  hampir gagal karena saya tak punya kemampuan mengejewantakan pikiran dan gagasan saya dalam tulisan.

Begitu pula, ketika saya mulai belajar menulis blog.   Saya memulai suatu tulisan dengan kebingungan mengenai topik apa yang harus dibicarakan.  Banyak topik di sekitar kita, namun seolah-olah saya tak menemukan satu topik pun.  Aneh bukan, jika kita hanya terpaku pada hal yang belum ada, tentu kita tidak akan memulai topik itu.  Saya memulai sesuatu topik yang sangat sederhana.  Contohnya, saya melihat anak kecil yang makannya selalu di luar rumah bersama pembantunya.  Topik utamanya adalah higenis makanan untuk anak balita.  Langsung, saya temukan. Lalu, saya mulai belajar untuk memperlebar dalam suatu rangkaian cerita atau artikel yang memenuhi syarat berikutnya.

Kesulitan berikutnya adalah pengalaman untuk menulis belum ada.   Tulisanku sangat pendek sekali, setengah halaman.   Penulisan yang  hanya ada  diotak atau dipikiran tanpa referensi apa pun.   Tulisan saya sering disebut orang dengan “garing”.   Tak berbobot dan tak lengkap referensi . Bahkan tak berimijanisi.

Belajar dari komentar teman untuk memperkaya wawasan tentanng penulisan dari penulis maka  aku mendaftarkan diri  untuk “Belajar Menulis “ di suatu seminar.  Seminar yang hanya beberapa jam ini kurasakan tidak lengkap karena  ulasannya sangat sederhana.

Kebetulan sekali  di Koran Kompas, ada iklan yang mengadakan suatu seminar penulisan oleh seorang penulis novel, Maggie .   Segera saya mendaftar.   Pada hari seminar diadakan, saya mendapatkan banyak informasi teknik untuk suatu penulisan.  Lengkap dan sangat bermanfaat.   
Setiap orang dapat bercerita.  Namun, apa yang membedakan cerita itu bagus dan luar biasa?  Bila kita ingin mengenal dan menjadi pencerita yang hebat dan bagus, maka tepatlah jika kita menyimak a Creative Wrting Master Class yang disajikan oleh Maggie.
dokumen prbadi  "Narasi Gramedia"

Mulailah saya mempraktekan diri saya dengan apa yang saya dapatkan.    Sebelum menulis menyiapkan topik, judul, dan kerangka, serta referensinya.    Tulisan pertama masih kaku.  Tak ada yang membaca atau menyukainya.  Demikian juga  hampir setiap hari saya menggoreskan tulisan saya. Ikut lomba untuk melatih tulisan-tulisan.  Melatih , mengembangkan tulisan dari satu bab, menjadi dua bab, dan tiga bab.   Melengkapi dengan beberapa referensi.   Saya tak ingin terjebak pada suatu keinginan yang menggebu.   Setelah sering menulis pun,  sering saya tak menyadari tidak adanya  waktu untuk menyunting, menguji kelayakan naskah itu.

 “Cerita adalah cara kita mengabadikan budaya hidup,” kata Maggie.  “Dengan memahami proses cerita, otomatis akan menjadi pencerita yang lebih baik lagi.”
Cerita bukan sekedar banyolan kosong atau hal yang kesuksesannya dicapai tanpa kerja keras. Tampilan Klip Video, lukisan, dan foto untuk mengilustrasikan poin kreatif dari karya-karya visual yang bercerita.
Begitu kayanya Maggie dengan pengalamannya memberikan contoh karya-karya dunia, membahas tentang cerita sebagai produk kreatif berkualitas. Bagaimana pencerita bisa mengimbangi tuntutan pasar dan idealisme cerita; serta memahami apa saja yang membuat cerita bisa berkembang dari bagus menjadi luar biasa.

Seminar dibagi dalam 3 bagian:
Sesi   I:
  •  Apa yang dimaksud cerita; serta fungsi dan cakupannya
  •  Prinsip dan Fisiologi Cerita
  •  Tentang Proses Bercerita
  •  Cerita dan Creative Writing
Sesi II

 Platform Cerita
  •  Visual Art
  •   Literature
  •   Performance Art                                                                                                                 
Rangka Utama Cerita
  •   Setting
  •   Karakter
  •   Tema
  •    Presmis
  •    Time Frame
  •     Genre
Desain Cerita
  •     Inti
  •     Limitasi
  •     Komposisi/Sekuens
  •     Karakterisas
Struktur Ceritera
  •     Pembuka
  •     Insiden Pemicu
  •     Adegan
  •      Krisis
  •      Konflik
  •      Klimaks
  •      Denounement
Pemetaan Cerita
  •      Plot
  •      Mini Plot
  •      Anti Plot
Ide Cerita
  •      Pesan/Statement
  •      Pertanyaan
  •      Persuasi
 Riset/Informasi Penunjang::  Metode Riset
 Style/Gaya bercerita
  •      Nada cerita/mood setting
  •       Pemilihan detail
  •       Penggunaan bahasa
  •       Eksposisi: bagaimana memperkenal background information atau karakter dan situasi dalam cerita
  •       Dialog:  mendefiniskan karakter lewat dialog

SESI III CERITA & PASAR

Contoh produk visual yang menggunakan cerita sebagai medium komunikasi
  •        Foto
  •       Trailer film
  •        TV Spot
  •        Short  Film
  •        Lukisan
 Mengapa  kualitas cerita kontemporer semakin merosot?
  •          Mengenali kelemahan cerita
  •          Idealisme dan Pasar
  •          Craft vs Talent

Usaha saya agar motivasi sebagai penulis tidak turun adalah dengan ikut komunitas Penulis Kebetulan dua komunitas yang saya ikuti adalah Kumpulan Emak-Emak Blogger dan Ibu-Ibu Doyan Menulis, sangat aktif untuk berbagi tentang tulisan yang telah dibuat serta berbagi ilmu.

Namun, ternyata tak mudah implementasi motivasi  semangat yang tetap kokoh, berkali-kali tulisanku yang dikirimkan ke media, lomba-lomba , tak satu pun yang berhasil.  Hampir putus asa kenapa dan mengapa tulisan itu tak juga mendapatkan suatu penghargaan atau penerimaan.

Tantangan diatas membuat motivasiku kendur dan menghancurkan impianku untuk jadi penulis. Akhirnya aku mendapatkan inspirasi dari artikel yang menceritakan tak mudahnya seorang penulis terkenal seperti J.K. Rowling dalam menerbitkan naskah yang terkenal yaitu Harry Porter. Penolakan sebanyak 12 penerbit sebelum buku itu diterbitkan.  Demikian juga penulis sukses, Kathryn Stockett, yang menulis  Novel "The Help". Penolakan yang diterimanya sebanyak 61 kali oleh agen .  Pengalaman penolakan penulis terkenal ini membuat diriku bangkit kembali.  Tulisanku belum sampai 61 kali, jadi masih ada kesempatan bagiku untuk meraih kesempatan. 

Berbagai tantangan lain adalah penerbit mayor yang saya inginkan tentunya ingin melihat kualitas buku yang saya terbitkan.  Di sini saya  merasa belum cukup mampu.  Menulis adalah bagian hidup saya.   Peningkatan kualitas terus dikembangkan dan terus banyak membaca dan menuliskannya.  Menulis dari hati yang terdalam, dan mengembangkannya dengan objektivitas dan referensi menjadi andalan saya.   Semoga hal ini dapat berhasil dan rencana dan impian untuk sebuah hasil karya buku dapat berhasil diwujudkan.

 Tawaran yang baik dan mungkin patut dapat dipertimbangkan adalah self-publishing dari
Rasibook yang telah berpengalaman dan mempunyai jaringan luas serta kerja sama dengan penerbit yang berpengalaman.  Disamping itu Rasibook  menjual karya kita  melalui beberapa penyedia aplikasi buku digital seperti Scoop, Indobooks, Mahoni, Scanie, dll yang menjual buku digitalnya di Appstore, Windowstore, Google Play, dll. SSemoga saya buku impian saya dapat diwujudkan.

 


Sumber Referensi:
http://www.jadipenulisbuku.blogspot.com/2014/09/banyak-cara-menerbitkan-buku-dan-jadi.html

Read More
Share
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...